Selamat datang, Login   Daftar Anggota Panduan   Tentang Kami   Standar Penulisan
                    
  BERANDA   HARGA KOMODITI   JARINGAN SUPPLIER   TATA TERTIB     
  Kontak admin: agromaretweb[at]gmail[dot]com    
Jual/ Beli Komoditi
Semua Kategori
Sektor Pertanian
Sektor Peternakan
Sektor Perikanan
Lainnya
beranda harga komoditi jaringan supplier saung agromaret
   
Industrialisasi Lele Dumbo
Lele dumbo (Clarias gariepinus) semula dipandang sebelah mata. Namun, komoditas
perikanan air tawar ini sekarang menjelma menjadi industri rakyat. Nilai
perdagangannya setiap tahun mencapai lebih dari Rp 1 triliun, penyerapan tenaga
kerja, nilai tambah, dan multyplayer effect yang dihasilkan juga besar.

Berbagai jenis usaha terkait lele pun meluas, mulai dari industri pakan (pelet),
perbenihan, budidaya, perdagangan, hingga pengolahan pangan berbahan baku lele
yang umumnya skala rumahan.

Konsumen lele juga menyebar luas. Dari desa hingga ke kota. Tidak saja rakyat
jelata yang makan di warung-warung tenda dengan sambal terasi dan lalapan,
tetapi merambah ke konsumen menengah atas.

Perubahan status sosial komoditas lele ini telah merangsang tumbuhnya berbagai
inovasi usaha dalam teknologi pengolahan pangan. Ada lele goreng kremes, bakso
lele, mi basah lele, lele asap, abon lele, rolate lele, hingga pizza lele.

Karena potensinya yang besar, tak kurang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ikut
mendukung pengembangan usaha berbasis lele dumbo dengan kampanye makan lele.

Konsumsi meningkat

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Departemen Kelautan dan Perikanan Made L
Nurdjana, Rabu (29/7) di Sukabumi, Jawa Barat, mengungkapkan, terus meningkatnya
konsumsi lele dan produk olahannya secara otomatis mendorong peningkatan
produksi lele dalam negeri. Tahun 2008 saja produksi lele hidup untuk konsumsi
mencapai 108.200 ton.

Dengan menghitung per kilogram lele ukuran konsumsi ada delapan ekor, setidaknya
dalam setahun produksi lele nasional mencapai 868,6 miliar ekor atau 2,37 miliar
ekor per hari. Apabila dirupiahkan, produksi lele 108.200 ton per tahun itu
senilai Rp 1,41 triliun, dengan asumsi harga lele konsumsi Rp 13.000 per
kilogram.

Belum menghitung nilai ekonomi yang timbulkan dari usaha lele, baik dari aspek
off farm maupun sarana produksi, seperti produksi pakan, obat-obatan, material
kolam, pemupukan, hingga pembenihannya.

Semakin besar lagi perputaran ekonomi kalau menghitung berapa juta pedagang di
seantero negeri ini berkat lele, baik dalam bentuk warung tenda maupun produk
olahan. Juga berapa banyak tenaga kerja yang terserap baik tingkat hulu maupun
hilir, dan perdagangannya.

Dewasa ini permintaan lele juga tidak saja berasal dari dalam negeri. Konsumen
di Amerika Serikat dan Eropa juga sudah melirik lele. Begitu pula dengan
Singapura dan Malaysia.

Arus bawah

Berkembangnya "industrialisasi" lele dumbo berbasis kerakyatan secara tanpa
disengaja tumbuh dari bawah. Ketika lele dumbo masuk Indonesia beberapa dekade
lalu, minat masyarakat terhadap jenis ikan catfish yang satu ini cenderung
negatif.

Kala itu masyarakat tidak begitu suka dengan lele karena kesan menjijikkan.
Kulitnya yang berlendir mengingatkan konsumen tertentu pada jenis hewan melata
seperti belut.

Kemampuan adaptasi binatang air yang satu ini karena mampu hidup dalam
lingkungan air yang kotor sekalipun telah menggeser persepsi masyarakat terhadap
komoditas lele yang terkesan jorok.

Namun, seiring melemahnya daya beli masyarakat akibat berbagai tekanan ekonomi,
lele semakin diminati. Selain murah kandungan proteinnya tinggi.

Munculnya fenomena pecel lele kian mendongkrak citra lele di mata masyarakat.
Mengonsumsi lele bukan lagi memalukan. Di Yogyakarta, pecel lele menjadi
santapan yang digemari mahasiswa karena terjangkau. Kebutuhan lele dumbo di
Yogyakarta 10-15 ton per hari.

Pelan dan pasti, permintaan lele terus naik. Bila tahun 2004, produksi lele
budidaya hanya 51.271 ton per tahun, tahun 2005 naik menjadi 69.386 ton, 2006
(77.272 ton), 2007 (91.735 ton), dan 2008 (108.200 ton).

Direktur Riset dan Kajian Strategis Institut Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria
mengungkapkan, lele merupakan industri rakyat. Tak ubahnya raksasa yang tidur
(giant slipping), bisa diusahakan siapa saja.

Yang diperlukan saat ini adalah inovasi teknologi pangan. Karena sekarang ini
konsumsi terbesar lele dumbo lebih pada bentuk segar, belum banyak ke produk
olahan. Kalau tidak segera mengembangkan industri pangan olahan berbasis lele,
akan terjadi kelebihan pasokan dan ini akan membahayakan bagi kelangsungan
usaha.

"Kalau menunggu inovasi teknologi pengolahan pangan dari masyarakat, perlu waktu
lama. Kebijakan pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga penelitian di bidang
pangan perlu di arahkan ke sana," katanya.

Industri lele dumbo berbasis usaha kecil rakyat ini jelas lebih tahan banting.

SUMBER: Kompas
Jual Bibit Lele Sangkuriang  dicari lele  nanya bibit lele  benur lele   pakan ikan lele buat sendiri   Tawaran Kerjasama Budidaya / Perdagangan Lele  Jual bibit ikan lele, ikan mas, gurame,dan bawal  Lele sangkuriang  pakan lele  Cara Paling Praktis dan Efisien Beternak Lele Dumbo  
Copyright@2011 agromaret.com