Selamat datang, Login   Daftar Anggota Panduan   Tentang Kami   Standar Penulisan
                    
 
HINDARI PENIPUAN. BACA TIPS BERIKUT SEBELUM BERTRANSAKSI  
   2014-04-25 05:39:24 Kontak admin: agromaretweb[at]gmail[dot]com   
beranda harga komoditi jaringan supplier saung agromaret
Subyek: [PERTANIAN ORGANIK : SUATU PILIHAN PERTANIAN BERKELANJUTAN Oleh : Divisi Research & Development ]  
 PT. JAVA AGRO CITRA GEMILANG
1. PENDAHULUAN
Visi pembangunan pertanian abad 21 adalah pertanian modern, tangguh dan efisien. Oleh karena itu, Departemen Pertanian bervisi untuk mewujudkan masyarakat yang sehat dan produktif melalui pembangunan pertanian yang selaras dengan alam. Untuk mewujudkan visinya tersebut, DEPTAN telah merumuskan tujuan pembangunan pertanian, salah satunya terfokus kepada upaya pasar domestik dan eksport (Deptan, 1999).

Persyaratan kualitas produk pertanian termasuk persyaratan lingkungan dalam perdagangan internasional serta tuntutan konsumen akan produk yang bebas bahan kimia menjadi tantangan yang harus segera ditangani. Untuk itu diperlukan upaya-upaya guna memenuhi persyaratan tersebut. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah dengan pertanian organik. Namun kenyataannya sistem ini kurang berkembang atau kurang mendapat perhatian, terutama oleh petani. Sebaliknya sistem pertanian intensif dimana penggunaan pupuk anorganik dan pestisida (fungisida, insektisida dan herbisida) banyak digunakan untuk meningkatkan produksi tanamannya dan cenderung berlebih masih dilakukan oleh sebagian besar petani. Petani sentra sayur-sayuran dan hortikultura, menggunakan pupuk dan pestisida secara bebas untuk memberikan kepastian hasil tanaman cabai, tomat dan tanaman sayur-sayuran. Kondisi ini apabila terus berlanjut maka harapan untuk meningkatkan daya saing produk pertanian kita sulit untuk diwujudkan.

Permintaan pangan yang terus meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk dan kesejahteraanya, telah mendorong pemerintah dan petani untuk meningkatkan produktivitas usahataninya. Demi untuk meningkatkan produktivitas inilah seringkali terjadi eksploitasi lahan yang berlebihan dan penggunaan pupuk anorganik. Penggunaan varietas-varietas unggul baru yang rakus hara, perluasan areal tanah ke tanah-tanah yang bermasalah (kesuburan rendah) dan rendahnya efisiensi pupuk, telah menyebabkan penggunaan pupuk anorganik terus meningkat. Musa et al (1999) menunjukkan penggunaan pupuk pada tanaman padi, yaitu pada tahun 1983 penggunaan pupuk urea, TSP dan KCl mencapai 3.012.367 ton dan pada tahun 1997 mencapai 4.174.111 ton atau selama 15 tahun terdapat peningkatan sebesar 38,5 % dengan rata-rata 2,75 %. Wibowo (1995) menyatakan bahwa laju peningkatan penggunaan pupuk NPK di Asia Pasifik per tahun mencapai 6,2 %.

2. PENGARUH NEGATIF PUPUK AN-ORGANIK
Pemberian pupuk anorganik memang dapat menyediakan unsur hara yang melimpah terhadap tanaman, namun dapat merubah struktur tanah, merubah keseimbangan unsur hara dan populasi organisme dalam tanah. Penggunaan pupuk dan pestisida yang bebas selain meningkatkan biaya produksi, juga dapat berdampak negatif terhadap lingkungan dan konsumennya. Al Gore (1992 clt. Hobo, 1999) menyatakan bahwa pupuk nitrogen paling besar merangsang deprivasi oksigen sehingga mendorong tanah menghasilkan metan dan nitrat oksida dalam jumlah besar. Juga ditemukan bukti adanya peningkatkan kosentrasi metan serta nitrat oksida dalam atmosfer dan keduanya adalah mencakup jauh diatas 20 % penyebab pemanasan global.

Pemakaian pupuk anorganik secara terus menerus tanpa diimbangi pupuk organik akan merusak struktur tanah dan tanah menjadi masam. Kondisi tanah yang masam akan menyebabkan unsur hara tanah dalam keadaan terikat dan tidak dapat dimobilisir ke tanaman sehingga menyebabkan produktivitas tanaman menjadi rendah.

Menurut Sangatanan dan L.R. Sangatanan (1984) penggunaan pupuk anorganik secara terus menerus dan berlebihan dapat menyebabkan neraca hara dalam tanah tidak seimbang mengingat pupuk mineral yang banyak dipakai hanya N, P, K dan jarang mengandung hara mikro, membuat kecanduan karena kemudahan-kemudahan dalam penggunaan pupuk mineral, menghentikan proses penyematan N2 udara oleh Rhizobium maupun jasad renik yang lain, dan mungkin juga menyebabkan terjadinya mutasi pada jasad renik tersebut, menjadi strain lain yang tidak lagi menyemat N2 udara, mematikan jasad renik dan cacing tanah.

3. PERTANIAN ORGANIK
Pertanian organik adalah suatu sistem pertanian yang mendorong kesehatan tanah dan tanaman melalui praktek seperti pendaurulangan unsur hara dari bahan-bahan organik, rotasi tanaman, pengolahan yang tepat dan menghindari pupuk dan pestisida sintentis (Reijntjes et al, 1999). Menurut Dahlan et al. (1995) filosofi pertanian organik ialah pertanian berkelanjutan secara ekologi dan ekonomi. Sistem pertanian ini tidak merusak lingkungan, tingkat produktivitas memadai dan petani masih untung. Dikemukakan pula bahwa prinsip pertanian organik adalah (1) petani masih tetap untung, (2) hasil stabil, (3) kualitas hasil baik dan aman (tidak mengandung bahan kimia yang membahayakan), (4) tidak mengganggu lingkungan dan mahkluk hidup sekelilingnya dan (5) mencegah terjadinya erosi.

Pada sistem pertanian organik, pupuk yang diberikan berasal dari bahan-bahan organik seperti pupuk kandang, residu tanaman, pupuk hijau dan berbagai limbah pertanian lainnya. Dengan demikian kebutuhan hara tanaman tetap dapat terpenuhi. Penggunaan pupuk organik ini memiliki beberapa keuntungan. Menurut Shiddieq dan Pratoyo (1999) bahan organik dalam jumlah yang cukup mempunyai multi fungsi positif yaitu (1) dari segi fisika tanah bahan organik dapat berfungsi memperbaiki permeabilitas, menurunkan, erodibilitas, meningkatkan daya simpan air, mengatur penyerapan dan pelepasan panas, mempermudah pengolahan tanah pada tanah lempungan; (2) dari segi kesuburan dan kimia tanah dapat berfungsi sebagai sumber hara makro dan mikro, meningkatkan ketersediaan P, melepaskan P dari ikatan Ca-P dan Mg-P di tanah kapuran, melepaskan P dari ikatan Fe/Al-P dari tanah masam, meningkatkan ketersediaan sulfur, membentuk khelat dengan ion-ion Fe, Cu, dan Zn sehingga mudah tersedia bagi tanaman ditanah yang alkalis atau pada tanah kapuran, menonaktifkan Fe, Al dan Mn mengeleminir keracunan unsur tersebut pada tanah masam, meningkatkan kapasitas penukaran kation (KPK) dan mengurangi pelindian hara, mengatur ketersediaan hara berdasarkan nisbah C/N, menekan pencemaran logam, memasok hormon pertumbuhan; (3) dari segi biologi, bahan organik akan meningkatkan aktivitas jasad renik tanah yang berdampak positif terhadap kesuburan fisika dan kimia tanah dan berimbas kesehatan tanah. Jadi pemberian bahan organik pada tanah dapat meningkatkan kesuburan tanah dengan memperbaiki keadaan fisik, kimia dan biologi tanah.

Pemberian pupuk dapat juga diberikan melalui daun. Aplikasi pupuk melalui daun dengan pupuk pelengkap cair organik telah banyak dilakukan petani. Salah satu diantaranya adalah dengan Pupuk Organik Cair (POC) BIOTON. Keuntungan aplikasi pupuk melalui daun adalah memungkinkan tanaman mendapat unsur esensial lebih cepat dibandingkan melalui perakaran. Meskipun demikian ada beberapa kendala yang perlu diperhatikan pada cara pemberian pupuk melalui daun. Kendala-kendala tersebut menurut Idris (1996) adalah (1) jika lapisan kutikula daun tebal akan menurunkan kecepatan penetrasi; (2) run-off dari permukaan yang hidrofobik; (3) tercuci karena air hujan; (4) cepat mengering jika disemprotkan; (5) terbatasnya jumlah hara makro yang dapat disuplai; dan (6) terjadinya kerusakan daun jika kosentrasi terlalu tinggi.

Pengendalian hama dan penyakit pada sistem pertanian organik juga menggunakan bahan-bahan organik, misalnya ekstrak daun mimba, serai wangi dan lengkuas. Namun yang lebih penting untuk mencegah terjadinya serangan hama dan penyakit adalah dengan pengaturan pola tanam dan waktu tanam, serta memilih varietas-varietas yang tahan terhadap hama dan penyakit.

Meskipun memiliki beberapa keuntungan, penggunaan pupuk organik memiliki beberapa kelemahan antara lain (1) volumenya terlalu besar sehingga menyulitkan penanganannya; (2) bila belum sempurna mengalami dekomposisi dapat menimbulkan gejala defisiensi, dan menularkan hama penyakit tertentu, (3) limbah pabrik atau limbah pemukiman masih sering mengandung logam berat dan (4) pengadaan pupuk hijau dalam jumlah besar sering menyulitkan (Sumartono, 1995). Namun demikian kelemahan-kelemahan tersebut bukan menjadi kendala yang serius untuk melaksanakan sistem pertanian organik.

4. PERTANIAN BERKELANJUTAN

Pertanian bekelanjutan (sustainable agriculture) merupakan pengelolaan sumber daya pertanian untuk memenuhi perubahan kebutuhan menusia sambil mempertahankan atau meningkatkan kualitas lingkungan dan melestarikan sumber daya alam (Rienjntjes, 1999). FAO mendefinisikan pertanian berkelanjutan sebagai pengolahan dan konservasi sumber daya alam, dan orientasi perubahan teknologi dan kelembagaan yang dilakukan sedemikian rupa sehingga dapat menjamin bagi generasi sekarang dan mendatang. Menurut Untung (196) pertanian berkelanjutan adalah setiap prinsip, metode, praktek dan falsafah yang bertujuan agar pertanian layak ekonomi, ekologi, dapat dipertanggungjawabkan, secara sosial dapat diterima dan berkeadilan, secara budaya sesuai serta berdasarkan pendeketan holistik. Paradigma lama atau paradigma konvensional yang lebih berorientasi pada teknologi produksi akan digeser oleh yang berwawasan lingkungan.

Dalam pertanian berkelanjutan ketergantungan input dari luar akan berkurang dan menciptakan kemandirian kehidupan alami dan menciptakan keseimbangan. Dengan kata lain bahwa pertanian berkelanjutan itu menekan sumber daya produksi dari laur dengan memanfaatkan sumber daya lokal secara maksimal.

Berdasarkan pada pengertian pertanian berkelanjutan tersebut maka pertanian organik dimana penggunaan pupuk dan pestisida berasal bahan-bahan organik merupakan pilihan yang tepat. Limbah dari tumbuhan, hewan dan manusia baik langsung maupun melalui proses pengomposan dikembalikan lagi kedalam tanah dan tidak ada penambahan pupuk atau bahan anorganik lainnya. (lihat gambar). Dengan demikian kebutuhan hara tanaman tetap terpenuhi melalui pendaurulangan sehingga stabilitas hasil tetap terpelihara dan kualitasnya baik (aman untuk dikonsumsi). Untuk menghindari terjadinya kerusakan terhadap lingkungan maka pengolahan tanah perlu mendapat perhatian.

15 Jun 2012 - 12:03:43
BALAS KOMENTAR
(Silahkan login untuk memberikan komentar)
 
Copyright@2011 agromaret.com